Malam itu sepulang dari kantor, kulihat istri, anakku dan mbaknya sedang asyik mengerjakan prakarya. Rupanya diminta oleh sekolah untuk membuat prakarya alat elektronik dari dus, dan mau masuk TV – TPI, besok. Prakarya yang dibuat berupa TV lengkap dengan antena, remote control, gambar acara TV dan tulisan TPI dipojok kiri atas.
Karena kebetulan bos lagi dinas ke Amrik, kemarin aku cuti untuk urusan perpanjangan SIM dll. Sebelum ngurus SIM yang mulainya agak siang, paginya aku sempatkan mengantar anakku ke SD 03 Depok, sekalian memberi semangat untuk ’tampil’ di TV dengan prakaryanya.
Setiba disekolah, kulihat telah banyak persiapan, termasuk drumband sekolah. Yang lebih kaget lagi, dimana-mana ada spanduk reklame dari salah satu operator telpon seluler. O, rupanya ada kerjasama TPI dan operator ponsel membuat acara ”profil sekolah”.
Dengan tema ’belajar sambil bermain’, setengah harian anak-anak SD tersebut diberi aneka game yang menyenangkan. Lalu dapat hadiah dari operator ponsel. Lalu didepan kamera meneriakkan slogan2 dan mempromosikan untuk memilih operator ponsel tersebut. Anakku tidak dapat hadiah karena mis informasi. Yang dapat hadiah adalah yang membuat prakarya handphone yang digunakan oleh si operator ponsel.
Bagaimanapun, anakku yang kelas 3 SD sangat terkesan. Dirumah dia bercerita betapa enaknya metode ’belajar sambil bermain’, dan berharap bisa sering dilakukan.
Dizaman kompetisi ini, kecerdikan marketing dan penjualan telah masuk ke tahap yang super agresif. Anak-anak sudah menjadi target promosi dan konsumtif, karena anak-anak sudah menjadi salah satu pengambil keputusan untuk memilih dan membeli barang. Keinginan anak akan dipenuhi orang tuanya. Karena orang tua mencintai anak.
3:14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Karena kebetulan bos lagi dinas ke Amrik, kemarin aku cuti untuk urusan perpanjangan SIM dll. Sebelum ngurus SIM yang mulainya agak siang, paginya aku sempatkan mengantar anakku ke SD 03 Depok, sekalian memberi semangat untuk ’tampil’ di TV dengan prakaryanya.
Setiba disekolah, kulihat telah banyak persiapan, termasuk drumband sekolah. Yang lebih kaget lagi, dimana-mana ada spanduk reklame dari salah satu operator telpon seluler. O, rupanya ada kerjasama TPI dan operator ponsel membuat acara ”profil sekolah”.
Dengan tema ’belajar sambil bermain’, setengah harian anak-anak SD tersebut diberi aneka game yang menyenangkan. Lalu dapat hadiah dari operator ponsel. Lalu didepan kamera meneriakkan slogan2 dan mempromosikan untuk memilih operator ponsel tersebut. Anakku tidak dapat hadiah karena mis informasi. Yang dapat hadiah adalah yang membuat prakarya handphone yang digunakan oleh si operator ponsel.
Bagaimanapun, anakku yang kelas 3 SD sangat terkesan. Dirumah dia bercerita betapa enaknya metode ’belajar sambil bermain’, dan berharap bisa sering dilakukan.
Dizaman kompetisi ini, kecerdikan marketing dan penjualan telah masuk ke tahap yang super agresif. Anak-anak sudah menjadi target promosi dan konsumtif, karena anak-anak sudah menjadi salah satu pengambil keputusan untuk memilih dan membeli barang. Keinginan anak akan dipenuhi orang tuanya. Karena orang tua mencintai anak.
3:14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar