Selasa, Agustus 26, 2008

Ketegaran yang Sembunyi

Dibalik meriahnya hari kemerdekaan, tiba-tiba kami diberitahu bahwa kemarin salah satu ustad di komplek dilarikan ke rumah sakit. Kami berkunjung ke rumah sakit dan hanya bisa menjumpai istri dan anaknya, karena Pak Ustad masih di ruang ICU. Kami mengungkapkan empati dan mendoakan agar cepat sembuh. Aku lihat wajah istri dan anaknya tegar menghadapi cobaan ini.

Beberapa hari berikutnya aku dan keluarga ke luar kota. Sekembalinya, kami mendapat khabar bahwa Pak Ustad masih belum keluar dari ruang ICU. Rupanya waktu masuk rumah sakit, sudah ada pembuluh darah di kepala yang pecah, sehingga perlu discan dan dioperasi. Namun operasi belum bisa dilakukan karena kondisi fisik masih belum stabil.

Warga (khususnya kelompok pengajian) berkumpul untuk mencari jalan membantu Pak Ustad, karena biaya di ruang ICU mencapai jutaan rupiah per hari. Sementara Pak Ustad, walaupun mempunyai banyak tempat kerja, namun bukan pegawai tetap dan tidak dijamin asuransi kesehatan. Sedangkan saudara dan anggota keluarga yang lain, tidak lebih mampu dari Pak Ustad, bahkan beberapa saudara Pak Ustad dan Bu Ustad dinafkahi dari penghasilan Pak Ustad.

Ketika berdiskusi, istriku menyampaikan bahwa mengingat sifat pekerjaan dan pendapatan Pak Ustad, maka selama di rumah sakit dan masa penyembuhan tentu tidak ada penghasilan Pak Ustad. Sementara anak-anaknya ada yang sedang KKN, kuliah tingkat 2 dan SMA kelas 3, yang artinya membutuhkan biaya ekstra. Oleh karena itu, istriku menyanggupi untuk membantu kebutuhan pendidikan anak-anak Pak Ustad.

Kemudian kami berkunjung lagi ke rumah sakit. Sudah ada kemajuan, dimana tangan kirinya sudah bergerak dan memijat-mijat tangan kanan. Pandangannya sudah mulai terarah, namun sulit mengenali orang karena tidak pakai kacamata. Bibir sudah mulai tersenyum.

Yang aku kagumi adalah, bahwa istri dan anaknya tetap menyambut kami dengan ramah. Dibalik masalah kesehatan suami dan biaya rumah sakit, mereka terlihat tegar. Wajah mereka tidak memperlihatkan beban atas masalah yang dihadapi.

Ketika istriku menyampaikan kepada istri Ustad bahwa kami siap membantu, bukan hanya biaya pengobatan, tetapi juga kelangsungan biaya pendidikan anak dan nafkah keluarga, kulihat istri Pak Ustad berlinang airmata dan memeluk istriku erat-erat. Namun tetap ketegarannya terlihat. Ia mengucapkan terimakasih dan mendoakan.

Aku kagum pada mereka.

2:273. (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

Semoga lekas sembuh Pak Ustad.
Apapun yang telah terjadi, tentu akan memberi hikmah yang dalam.
Apapun yang akan terjadi di masa depan, tentu merupakan yang terbaik dari sisi Allah.
.

Tidak ada komentar: