Disela membesuk Pak Ustad, kami mengobrol dengan salah satu anaknya yang kuliah di UIN. (Pak Ustad sendiri adalah lulusan PTIQ -Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, dan telah hafal Al Quran yang ayatnya enam ribu lebih.) Sang anak bercerita bahwa Pak Ustad sedang memutar haluan gaya dakwah, dari tradisionil ke modern. Pak Ustad berencana akan menyampaikan dakwah dengan cara masuk ke trend anak muda dan menggunakan teknologi IT.
Rencana Pak Ustad ini cukup mengagetkan aku. Maklum, diantara 4 ustad di komplek kami, beliau termasuk yang kurang luwes dan kurang segar dibanding 2 ustad lainnya (kalau disimak, isi ceramahnya berbobot). Pak Ustad sangat terobsesi untuk meningkatkan spiritualitas warga. Namun ternyata warga adalah orang kota yang kantornya puluhan kilometer dari rumah. Sehingga hanya mempunyai sedikit waktu untuk kegiatan spiritualitas. Aku juga merasa bersalah karena tidak bisa ikut dalam jamaah membaca dan menghapal Al Quran yang beliau bina. Mungkin obsesi vs kenyataan ini, yang tanpa disadari telah mendorong timbulnya stroke.
Benar atau salah analisa penyebab stroke Pak Ustad, aku hanya mencoba mengambil hikmah bahwa setiap individu mempunyai kebebasan memilih. Tak bisa dipaksakan. Bahkan untuk selevel Nabi Muhammad saja, Allah mengingatkan agar tidak terobsesi atau terbebani dalam mengubah orang lain.
2:272. Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).
42:48. Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).
Bagaimanapun, aku tetap salut dan hormat pada Pak Ustad. Jazakumullah khairan khatsiran. Semoga Allah membalas semua kebaikan Pak Ustad dengan hal-hal yang jauh lebih baik lagi.
.
Selasa, Agustus 26, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Artikel yang menarik.
Saya pikir kita memang "wajib berusaha" secara sungguh2 tapi "tidak wajib menikmati hasilnya". Bisa jadi yg membuat kita stress adalah melihat kehidupan ini serba matematis. Saya melakukan A maka saya akan mendapatkan A. Saya melakukan A plus maka saya juga harusnya mendpt A plus. Semua dihitung serba matematis dgn logika otak kiri kita. Kita kadang alpa bahwa begitu bicara hasil maka banyak faktor eksternal dan ada "kekuatan lain" yg berada di luar kendali kita.
Posting Komentar