Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami.Lima belas tahun yang lalu kami melaksanakan ijab-kabul pernikahan, disaksikan oleh keluarga dan beberapa teman kantor dan teman semasa kuliah. Acara akad nikah dibuat sederhana, diadakan di Masjid Pertanian Ragunan. Pada acara itu kami hanya menyuguhkan aneka snack yang dibeli di pasar subuh Senen.Aku menggunakan jas almamater, peci Aceh pemberian calon istri dan dasi pemberian calon mertua. Calon istriku terlihat cantik mengenakan kebaya kuning gading dengan untaian melati di kepala. Para anggota keluarga mengenakan pakaian bebas karena tidak ada seragam dalam acara itu.
Dalam acara pernikahan kami hanya ada akad nikah, tanpa walimahan atau resepsi. Pertimbangan utamanya adalah karena sebagai pasangan muda yang masih menapak, kami lebih mengutamakan menggunakan dana yang dimiliki untuk membayar DP (down payment) rumah sederhana. Istriku dan aku sepakat bahwa kesakralan pernikahan bukanlah pada adanya resepsi yang meriah, tetapi kesungguhan kami saat mengucap ijab-kabul. Sesuai kemampuan saat itu, kami tidak perlu merayakan secara berlebihan.
25:67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
Usai akad nikah, kami menuju ke Bandara untuk berbulan madu di Lombok. Ditengah jalan ada truk besar mogok yang menghalangi jalan, sehingga kami tiba di check-in counter 20 menit menjelang jadwal keberangkatan. Petugas minta maaf, karena kami tidak hadir 30 menit sebelum jadwal, maka sesuai prosedur, tiket kami telah diberikan pada penumpang waiting list lain.
Manusia berencana, Tuhan menentukan. Kami tidak jadi berbulan madu di Lombok, tetapi di rumah kontrakan kami.
Walaupun di rumah kontrakan, hasilnya kembar..
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar