Kamis, Oktober 16, 2008

Petani Sawit vs Krisis Global

Aku mendapat telepon yang memberitakan gundah gulananya para petani sawit di sumatra. Para petani sawit mengeluh karena harga sawit turun. Harga sawit turun berarti pendapatan mereka menurun. Pendapatan menurun sangat tajam sedangkan kewajiban pengeluaran tetap tinggi. Mereka kebingungan untuk membayar hutang pinjaman ke bank.

Berawal dari subprime mortgage, lalu investor lari untuk invest di minyak, kombinasi dengan kurs dollar melemah, jadilah harga minyak melambung. Lalu harga minyak sawit terbawa melambung.

Disaat harga tinggi, petani sawit menikmati pendapatan yang tinggi. Analisa yang sampai kepada mereka adalah bahwa harga sawit akan tetap tinggi. Lalu mulailah mereka mengajukan pinjaman ke bank, baik untuk kendaraan, elektronik hingga kebutuhan pendidikan dan pernikahan anak. Pihak bank pun memberikan kredit karena petani sawit dinilai credible.

Ketika krisis bergerak ke arah lain, dengan berbagai analisa hukum sebab akibat, akhirnya harga minyak turun, dan harga sawit ikut turun. Diantara rantai ekonomi minyak sawit, maka pedagang, pabrik, dan pengumpul berusaha mempertahankan atau hanya sedikit mengurangi marjin. Sehingga yang tergencet tak berdaya adalah petani.

Kejadian-kejadian seperti ini harusnya menjadi pelajaran bagi petani. Atau kalaupun petani sulit mengambil pelajaran, maka para terdidik harus membagi ilmunya kepada petani.

Pelajaran yang paling penting adalah bahwa petani harus selalu siap terhadap penurunan harga jual, penurunan produksi, atau kenaikan harga pupuk. Petani harus bisa mengelola pendapatan dan belanja mereka.

12:46. "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya."

12:47. Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

.

Tidak ada komentar: