Senin, Oktober 27, 2008

S O S dari Petani

’Mohon standby untuk ikut teleconference jam 05.10’, demikian SMS yang kuterima. Maka di hari Minggu subuh kemarin handphoneku berdering dan aku telah bergabung dengan enam peserta teleconference lainnya. Mereka adalah para petani sawit yang tersebar di propinsi Jambi, yang jarak antara satu lokasi kebun dengan lokasi kebun lainnya adalah puluhan hingga ratusan kilometer.

Topik pembicaraan adalah tentang dampak penurunan harga sawit. Satu persatu para petani melaporkan situasi dilapangan. Harga sawit di level petani telah melorot dari Rp 2000 per kg menjadi Rp 200-300 per kg, yang berarti petani harus nombokin karena tidak cukup untuk ongkos angkut ke pabrik.

Pemda telah meminta pabrik untuk membeli sawit dengan harga Rp 800, tetapi manajemen pabrik malah memilih untuk tidak membeli sawit dan menutup kegiatan pabriknya untuk sementara. Jadi praktis petani tidak berpenghasilan.

Petani sawit menjadi relatif tidak berpenghasilan. Sementara harga BBM tidak diturunkan oleh pemerintah. Jangan-jangan harga-harga lain, baik untuk kegiatan kebun sawit maupun untuk kehidupan sehari-hari malah naik, karena dolar naik.

Para peserta teleconference melaporkan bahwa semua petani di wilayahnya terancam oleh hutang baik kepada bank maupun tengkulak yang tidak mampu dibayar. Beberapa petani yang mempunyai banyak kapling terpaksa menjual sebagian kapling kebunnya untuk melunasi hutang. Sebagian mendatangi koperasi untuk minta tolong, yang ternyata juga sulit dipenuhi oleh koperasi. Dilaporkan juga ada petani yang bunuh diri akibat himpitan ekonomi ini. Secara umum saat ini para petani sawit kebingungan menjalani hidupnya.

Mereka bertanya bagaimana kondisi jakarta akibat krisis. Kujawab bahwa saat ini masih heboh di para pemain saham dan pemain valas. Di level bawah belum ada gejolak besar. Mudah-mudahan pemerintah bisa tetap tenang dan tepat melangkah, sehingga gelombang PHK tidak terjadi.

Mengikuti pengalamanku di manajemen perusahaan, maka aku memberikan saran langkah-langkah yang harus diambil para petani.

Pertama, Krisis global diperkirakan akan terjadi cukup lama, maka jangan berharap situasi segera pulih. Ini saatnya iman kita diuji.
Kedua, Jual barang-barang yang bersifat konsumtif yang tidak produktif, untuk mendapatkan cash yang berguna untuk menjalani hidup dimasa krisis ini
Ketiga, Secara bersama-sama petani mendatangi Bank untuk minta direstrukturisasi hutang, dari periode 3 tahun menjadi 10 atau 15 tahun. Kalau perlu minta garansi Pemda atau diambil alih oleh Bank Pemda.
Keempat, Konversi sebagian lahan menjadi tanaman musiman jangka pendek.
Kelima, Belanja harian hanya untuk kebutuhan pokok dan produksi, dan cari cara menghematnya
Keenam, Kalau masih punya rezeki berlebih, berilah tetangga yang paling lemah ’pelampung’ seadanya agar tidak ’tenggelam’
Ketujuh, Tetap melaksanakan ibadah, berdoa, dan upayakan agar tetap bersyukur karena masih banyak nikmat Allah lain yang kita terima.

Teleconference berlangsung hampir satu jam. Ada perubahan nada suara dari nuansa keluhan dan gelisah di awal telecon, menjadi suasana sabar dan harapan di akhir telecon.

Sesaat setelah selesai berkomunikasi, aku menarik napas dalam. Berulang ulang.
Ada rasa takut dan harapan di kalbuku.

Lirih ku berdoa “Ya Allah, lindungilah manusia dari bencana krisis global, dan selamatkanlah orang-orang beriman dan bertaqwa untuk dapat meneruskan kehidupan dibumi dan membangun sistem ekonomi global yang sesuai dengan fitrah manusia dan tuntunan syariah Mu. Sebagaimana telah Engkau selamatkan pengikut para Nabi dari aneka kezaliman yang melanda masyarakatnya pada saat itu”

41:18. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa.

.

Tidak ada komentar: