Minggu, November 09, 2008

Amanah Mahal

Butuh waktu 5 hari untuk mendapat pengganti Blackberry yang hilang. Mencari dipusat HP Roxy malah membuat bingung, berputar-putar tapi akhirnya tidak ada. Aku harus mencari Blackberry yang persis sama dengan yang hilang, karena ini adalah fasilitas dari kantor. Akhirnya dapat di Mal Ambasador.

Ada sedikit kejadian unik saat membelinya. Di semua toko yang ditanya dan ditelpon dan disurvey, Blackberry yang kucari ditawarkan sekitar Rp 5.5 – 5.7 juta. Di toko itu ditawarkan seharga Rp 4.9 juta plus bonus memory 2 GB. Aku menanyakan apakah bisa turun, dijawab dengan senyum, tidak. Setelah mengucapkan terimakasih aku meninggalkan toko itu.

Baru saja keluar dari pintu toko, istriku menepuk, “4.9 juta koq ditinggalin?”
Aku terhenyak, ”Berapa? 4.9 juta? Astagfirullah, kirain 5.9 juta!”
Kami bergegas kembali ke toko dan mengkonfirmasikan harga. Setelah tiga kali dikonfirmasi, akhirnya terjadilah transaksi.

Usai membeli HP, kami mengkonsolidasi lagi rencana pengeluaran keluarga. Ini bentuk komitmen kami terhadap budaya disiplin anggaran. Sempat terbesit kesal karena memutuskan menunda beberapa agenda. Lalu munculah andai-andai. Andai boleh mengganti dengan jenis communicator lain yang lebih murah, andai perusahaan mau memaklumi dan menyediakan lagi, andai tidak hilang.

“Amanah itu mahal, kudu dijaga. Walau harus keluar ekstra uang dan ekstra tenaga”, ujarku
“Namun dengan menjaga amanah ini, insya Allah akan diberi kepercayaan lebih oleh perusahaan. Insya Allah akan menjaga dan meningkatkan pendapatan. Insya Allah bisa melanjutkan agenda keluarga yang tertunda”.
Mantaapp ...


8:27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

.

Tidak ada komentar: