Senin, November 17, 2008

Recharging Love

Ketika melihat tayangan kebahagiaan keluarga Tora Sudiro beberapa tahun lalu, maka ideallah sosok sang selebritis. Wajah tampan, humoris, ramah, tubuh atletis dan kekar, memberi kesan melindungi.
"Dia akan jadi idola wanita. Dan benar-benar akan menjadi cobaan berat baginya. Mudah2an dia mampu melaluinya", ujarku
"Kenapa?" tanya istriku
"Karena istrinya terlihat 'sederhana', sedangkan dia akan dikelilingi oleh wanita-wanita yang mempunyai berbagai 'kelebihan' dibandingkan istrinya. Dan wanita-wanita itu bersikap mengidolakannya"
Istrikupun berharap Tora dapat bertahan, sehingga ia benar-benar menjadi idola sejati

Tahun berlalu, minggu kemarin berita gugatan cerai dari istri Tora tersiar. Sikap Tora yang menghindar wartawan, justru menjadikan komentar media terhadap gugatan cerai itu semakin memojokkan dirinya.

Saat ngobrol2 dengan teman2 sesama lelaki, topik masalah wanita pasti tak terlewatkan, termasuk tentang Tora. Walaupun bukan idola, kasus serupa dapat terjadi pada diri masing-masing. Betapa tidak, berinteraksi dengan istri mungkin hanya terjadi beberapa jam dalam sehari. Selebihnya, selama meninggalkan rumah untuk bekerja, berinteraksi dengan banyak wanita. Tanpa sadar, ada penilaian terhadap para wanita, dan tanpa sadar mulai membandingkan istri dengan wanita-wanita lain. Membandingkan fisik, materi, sikap dan pemikiran. Kemudian akan mulai tampak 'kekurangan-kekurangan' istri.

Memang tidak fair, istri dikeroyok. Masalah fisik, istri kalah bila dibandingkan dengan si A, masalah materi dan profesi kalah sama si B, masalah sikap dan kecerdasan emosi kalah sama si C, masalah pola pikir dan pengambilan keputusan kalah sama si D.

Mungkin tidak terjadi selingkuh, tapi tingkat 'kepuasan' terhadap istri bisa berkurang. Dan kalau tingkat kepuasan berkurang, maka akan lebih mudah complaint, protes, atau menyalahkan istri. Semua kekurangan rumah tangga menjadi beban kesalahan istri. Naudzubillahi min dzalik.

Aku tak ingin berlaku seperti itu terhadap istri. Walaupun aku juga tidak mungkin menghindari berinteraksi wanita-wanita lain dalam keseharianku.
Bermesraan secara fisik memang mudah dilakukan, termasuk peluk cium menjelang pergi dan disaat pulang kantor. Tetapi aku merasakan, bermesraan yang nikmat adalah dengan penuh keikhlasan. Dan itu bisa terjadi bila telah memaafkan kesalahan dan memaklumi kekurangan istri, juga telah mengakui dan mensykuri manfaat dan nikmat yang telah diberikan istri.

Oleh karena itu aku merasakan perlu mencharge ulang baterai cintaku kepada istriku, agar selalu penuh. Itu aku lakukan dimalam hari, biasanya saat aku terbangun lebih dulu untuk shalat tahajud. Aku sempatkan untuk memandangi istri yang masih tidur, dan dengan nama Allah aku memaafkan dan mensyukuri keberadaan istri. Memang tidak tiap malam, tapi setidaknya seminggu sekali di malam week end.


30:21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

.rk

2 komentar:

white_big_bowl mengatakan...

Blog Bapak jadi membuat saya sedikit takut untuk menikah...

Izinkan saya curhat sedikit pak.

Jadi begini, kalau sedang jalan di mall saya suka melihat pasangan suami istri dimana sang suami terlihat lebih "keren" daripada sang istri.

Sang suami dengan gagahnya dengan tubuh masih tegap dan tidak mbloder (kalo kata orang jawa yang artinya gendut) memakai baju branded dan sang istri walaupun juga menggunakan baju branded dan alhamdulillah sudah tertutup dengan jilbab tetap terlihat kalah "keren" dibandingkan dengan sang suami karena sang istri sudah "mbloder".

saya tanpa sadar menilai penampilan suami istri tersebut dan berjanji kalau suatu hari nanti saya sudah menikah, saya mesti "maintain".

Tapi ga ada yang bisa menjamin kalau sang suami ga akan membandingkan, atau yang lebih parahnya berpaling, dari sang istri walaupun kita sudah merawat diri sedimikian rupa pake kembang 7 macam segala. Lha wong mbak tata yang cakep...cakep...cuakep ( 3 kali biar kayak iklan operator henpon) itu masih kurang juga lho buat sang suami. Cuma Allah yang berkuasa, sehingga kami (para perempuan) berdoa agar keluarga kami dilindungi dari segala godaan..

Mungkin saya egois atau entah apalah... tapi terus terang yang Bapak describe di blog Bapak itu adalah ketakutan terbesar saya..

Jadi gimana dong pak?

rajendra kartawiria mengatakan...

Ada 4 alasan orang memilih pasangannya:
1. karena kecantikan
2. karena kekayaan
3. karena jabatan
4. karena agama

Maka menikahlah untuk saling meningkatkan keimanan. Insya Allah tak luntur walau kita bertambah tua, harta berkurang, jabatan lepas.