“Ayo Wa, kita lihat pemotongan kurban”, ponakan2 menarik tanganku untuk menuju ke tempat pemotongan kurban. Aku memang berjanji, setelah shalat ied dan sarapan akan menemani mereka melihat kambing dan sapi dipotong.
Takbir bergema, sapi dan kambing dipotong sesuai nomor urut yang ditulis di badannya. Anak bungsuku dan sepupunya menyaksikan penyembelihan, pengulitan dan pemotongan daging. Mereka juga melihat isi tubuh dari sapi dan kambing, usus, paru-paru, jantung.
Anak-anak. Ada keceriaan dan keseriusan diraut mereka. Tapi saat kuperhatikan lebih jauh, ternyaka anak bungsuku menitikkan air mata!. Kuraih tangannya, kugendong dan kudekap erat.
“Ila kasian sama sapi dan kambingnya. Tadinya mereka masih hidup, terus sekarang mati. Ila jadi sedih”
“Ya sudah, kita pulang dulu ya..”.
Anakku mengangguk. Lalu aku berpesan kepada keponakan2 agar tidak kemana2 kecuali di area pemotongan kurban, sambil menelpon kakaknya untuk datang menemani dan menjaga mereka. Maklum usia ponakan masih 4 dan 8 tahun.
Diperjalanan menuju rumah, si bungsu bertanya “Koq orang pada berani melihat hewan disembelih?”
“ingat pelajaran biologi? Manusia termasuk makhluk pemakan apa?” aku mencoba menjelaskan melalui pertanyaan
“Omnivora, pemakan tumbuhan dan binatang” jawab anakku lantang. Si bungsu ini memang suka diberi pertanyaan yang bisa ia jawab.
“Nah, kalau mau makan binatang, binatangnya harus dibunuh dulu. Singa makan binatang dengan menerkam dan menggigit pundak atau leher mangsa hingga mati. Setelah itu baru dimakan. Manusia jaman dulu berburu binatang dengan tombak dan panah, setelah mati baru dimakan. Manusia sekarang sudah bisa beternak, jadi binatang ternaknya disembelih dulu baru dimakan.”
“Tapi kita khan tidak pernah menyembelih atau membunuh sapi” si bungsu menginterupsi
“Betul. Karena kita tidak punya sapid an hanya membeli daging sapi yang sudah dipotong-potong.”
“Tapi khan nggak tega” kata anakku.
“Memang kita nggak tega karena belum pernah menyembelih sendiri. Peternak sapipun ada yang nggak tega, dan sapi2nya dipotong oleh tukang potong hewan, namanya tukang jagal”
“Ap berani menyembelih sapi?” tanya anakku
“Dulu masih kecil, Ap suka menyembelih ayam”
“Masih kecil kayak Ila?”
“Nggak, sudah kelas 6 SD”, jawabku
“Trus waktu Ila lahir khan harus aqiqah. Artinya harus berkurban 1 kambing. Nah waktu itu Ap ikut menyembelih kambing”.
“Ila suka sosis?” tanyaku
“Iya, sosis sapi dan sosis ayam, dua-duanya Ila suka”, jawabnya ceria
“Nah sosis itu berasal dari daging sapi dan daging ayam. Dagingnya berasal dari sapi dan ayam yang tadinya hidup. Jadi karena kita adalah manusia, trus manusia adalah omnivore, makanya manusia harus berani membunuh hewan untuk dimakan.”
Si bungsu diam sejenak.
“Ap, yok kita lihat lagi kambing dan sapi yang disembelih”
Akhirnya si bungsu kembali bergabung dengan sepupu2nya menyaksikan penyembelihan sapi dan kambing.
6:142. Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu,
.
Senin, Desember 08, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar