“Ap, aku dan Nino dan Vika tahun baruan sama DD yaa ..” sibungsu minta izin untuk ke rumah Datuk-Datin (DD) di Jambi
“Kalo aku sih sudah janjian sama teman2 mau taun baruan di rumah ini” Kiki juga minta izin.
“Bun ngantar anak2 ke Jambi” sahut istriku minta izin. Alasannya adalah karena sudah tidak dapat tiket pesawat, sehingga perjalanan ke Jambi akan ditempuh dengan menggunakan bis.
Dyna bimbang, “aku ikut ke Jambi saja deh..”
Supaya adil, akhirnya aku tetap di rumah, menemani malam tahun baruan Kiki dan teman2nya.
Aku menghela napas, ternyata di era reformasi ini, keputusan sejati bukan di kepala keluarga. Bebas berpendapat dan berkehendak. Sulit menolak si bungsu ke Jambi karena sudah menelpon DD, dan DD terdengar gembira akan kedatangan cucu2nya. Sulit juga menolak rencana malam tahun baruan si gadis dan teman2nya, karena mereka sudah mempersiapkan acaranya.
Walaupun akhirnya aku menyetujui dan memutuskan rencana tahun baru keluarga, tetapi sebenarnya masing-masing sudah mengambil keputusan. Mungkin inilah era reformasi dalam rumah tangga
42:38. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar