Senin, Januari 19, 2009

Doa Egois

Tik tik tik bunyi hujan di atas genteng
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua


Musim hujan. Setiap hari selalu turun hujan. Bahkan beberapa hari ini hujan deras. Terkadang siang terkadang malam. Matahari jarang kelihatan. Kebunku selalu basah. Sumurku penuh air, tinggal diciduk.

Aku senang hujan. Udaranya segar. Tapi hari minggu teman2 akan datang membawa keluarganya ke rumah. Aku menjanjikan pesta kebun dan beberapa game buat mereka, terutama anak2 mereka. Kalau hujan seperti beberapa hari ini, maka rencana pesta kebun bisa bubar.

Jumat siang sampai malam diantara rintik hujan ku berdoa kepada Allah, mohon agar tidak hujan pada hari sabtu dan minggu. Supaya kebun bisa agak kering dan acara hari minggu berjalan lancar. Jumat ini hujan deras gak papa. Atau senin hujan juga gak papa.

Sabtu pagi tak kulihat mentari. Awan menutupi sinarnya. Kembali ku berdoa, agar ditiupkan angin untuk menghalau awan.
Meski awan bergerak namun datang lagi awan berikutnya, sehingga sabtu pagi itu mendung tetap memayungi rumahku. Aku berdoa lagi dengan H2C (harap-harap cemas).

Diantara doa, sejenak ku terhenti. Ada rasa malu kepada Allah karena doaku terasa egois dan seolah menuntut Nya untuk wajib memenuhi doa.

Kutarik napas, kutenangkan jiwa.
Lalu aku kembali berdoa ;
“Ya Allah. Musim hujan adalah sunatullah. Maka biarlah angin membawa awan dan awan menurunkan hujan. Maafkan aku yang mencoba menentang ketetapan Mu.
Ya Allah. Membahagiakan makhluk Mu adalah sifat Mu dan telah Engkau wajibkan kepada makhluk2 Mu untuk saling membahagiakan. Maka izinkanlah aku membahagiakan makhluk2 Mu di hari minggu nanti.
Ya Allah. Andai hari Sabtu dan Minggu ini turun hujan, maka itu adalah anugerah bagi makhluk2 Mu, dan anugerah bagiku. Andai tidak turun hujan, maka itupun anugerah bagi makhluk2 Mu dan anugerah bagiku.
Ya Allah. Atas keihklasan hati ku mencari ridho Mu. Maka limpahkanlah kebahagiaan padaku, baik hujan maupun tidak hujan.
Amin..”

Lega dan ikhlaslah hati. Hujan atau tidak, itu sudah kehendak Nya. Tugasku adalah mempersiapkan acara besok sebaik mungkin, dengan alternatif terjadi hujan maupun tidak hujan.
Meskipun mendung, hari sabtu berlalu tanpa hujan.

Hari minggu hatiku masih ikhlas untuk menerima kondisi hujan ataupun tidak. Persiapan untuk menjamu tamu sebaik mungkin tetap dilakukan.
Pagi hari cahaya matahari sedikit terlihat.
Lalu muncul awan.
Lalu turun butiran hujan yang sangat halus bagai embun.
Lalu cerah lagi.
Lalu berawan.
Lalu cerah.
Lalu cerah..
Lalu cerah...

Alhamdulillah hari Minggu itu tidak hujan. Dan acara pesta kebun dapat berlangsung di rumahku.

16:10. Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.

2:186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.


.

Tidak ada komentar: