“Israel kejam ya Ap” tukas si bungsu.
Aku tersenyum.
“Iya tuh banyak bangunan hancur dan anak-anak, wanita dan warga sipil terbunuh” sahut kakaknya.
Aku tersenyum.
“Itu khan dulunya negara Palestina, terus direbut dan diduduki Israel”, kata si gadis.
Aku tersenyum.
Aku tidak meng iya kan tetapi juga tidak membantah.
Sulit bagiku untuk memahami dan menghentikan permusuhan abadi dua bangsa ini, Palestina dan Israel. Sepanjang sejarah, pertikaian seolah tak pernah berhenti diantara keduanya. Ada kalanya Palestina diatas angin, ada kalanya Israel yang diatas angin. Padahal kedua bangsa ini masih punya kaitan persaudaraan. Mereka mempunyai garis keturunan dari satu bapak beda ibu. Bapak mereka adalah orang besar bernama (Nabi) Ibrahim.
Hebatnya, pertikaian keduanya mampu membangkitkan emosi seluruh dunia. Emosi yang berbeda dengan emosi saat mendengar pertikaian Korea Selatan dan Korea Utara, India dan Pakistan, atau pertikaian diantara sukubangsa yang masih banyak terjadi di Afrika.
“Kita doakan semoga bangsa Palestina dan Bangsa Israel dapat saling menahan diri dan hidup damai” ucapku pada anak2
2:136. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".
.
Selasa, Januari 06, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar