Detik berdetak. Semua aktivitas tertuju pada tengah malam, jam 24.00 atau jam 00.00. Karena jam 00.01 adalah tanggal 1 Jan 09, tahun baru.
Kesibukan di rumahkupun demikian. Kiki dan beberapa teman-teman sekelasnya sibuk lalu lalang. Lalu sepi. Mereka asyik diatap rumah. Lalu kemudian sebagian mereka turun lagi dengan muka yang penuh coretan bedak putih.
“Lagi main kartu. Yang kalah dicoretin bedak. Aku baru sekali kalah. Tapi ada yang belum pernah kalah tuh..”, Kiki menjelaskan.
Malam itu aku tetap didepan computer, meneruskan semedi untuk memecahkan “unsolved mysteries”. Berusaha untuk menuntaskan mala mini.
“Ap bangun, lima menit lagi tahun baru”, Kiki membangunkan. Rupanya aku tertidur.
Malam itu aku bergabung di atap dengan si gadis dan teman2nya. Indah sekali, kesudut manapun mata memandang, terlihat berseliweran kembang api ke udara dan meledak menghasilkan warna-warni kembang api yang menerangi malam. Baik yang disekitar komplek, di kampung maupun di kejauhan, semua terlihat cantik dari atap rumah.
“Selamat tahun baru, semoga tahun ini lebih baik dari tahun lalu” ucapku sambil menyalami mereka satu persatu.
“Pasti dong.. Selamat tahun baru juga ya Om ..”
Aku melanjutkan semedi, tertidur dan terjaga hampir setiap satu jam. Hingga menjelang azan subuh, kudengar diatap masih rame. Setelah subuh barulah hening. Kuperiksa ke atap, para gadis itu bergeletakan dan berhimpitan di dalam tenda.
103:1. Demi masa.
103:2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
103:3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
.
Jumat, Januari 02, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar