Saat berjalan di kebun rumah kakiku menginjak ranting. Kupungut untuk kubuang ke tempat sampah.
Tetapi tidak jadi. Ternyata bukan ranting, tetapi ada pohon rambutan kecil yang tumbuh dari biji rambutan.
Melihat dengan seksama ke sekeliling. 1,2,3… astaga, banyak sekali biji-biji rambutan yang telah tumbuh menjadi pohon rambutan mungil. Rupanya banyak yang metik dan makan rambutan, lalu bijinya dibuang kehalaman.
Gembira hati. Kuajak anak istri untuk menyaksikan.
Dibalik kegembiraan, tiba-tiba terbersit kesedihan.
Tunas-tunas mungil itu akan ceria tumbuh. 1,2,3 tahun mereka baru setinggi manusia. Tahun2 berikutnya akan tumbuh lebih tinggi dari atap rumah dengan cabang yang melebar. Seperti induk2nya yang ada sekarang.
Lalu dikebunku yang sempit ini?
Kubayangkan mereka akan berdesak-desakan. Permukaan tanah tak mendapat cukup sinar matahari. lIngkungan menjadi lembab dan menjadi kurang sehat bagi manusia. Kesimpulannya, tak cukup ruangan buat mereka.
Perjalanan hidup mereka terpaksa harus dihentikan. Dan kami, manusia, akan melakukannya.
Mudah2an manusia mengambil pelajaran dari hal seperti ini. Menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus mengendalikan populasinya. Termasuk spesies manusia. Semata2 untuk kenyamanan hidup generasi berikutnya.
Mungkin terlalu sentimental, tetapi aku merasa sedih harus mengakhiri hidup rambutan mungil yang ceria tumbuh.
6:95. Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?
.
Minggu, Februari 01, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar