Sabtu, Februari 07, 2009

Trauma Golf

“Kamu ikut ke Bali ya” kata bosku
“Tidak perlu pak, bahan saya siapkan sekarang. Saya tidak ikut rapat dan saya juga tidak main golf”

Aku memang tidak main golf. Bukan karena tidak suka. Bukan juga karena mahal. Tetapi ada kejadian yang pernah membuatku trauma terhadap lapangan golf

Dulu waktu kuliah, aku numpang di rumah bos ayahku di Bondongan Bogor. Mereka orang yang sederhana namun rajin menabung dan berinvestasi. Salah satu investasi adalah kebun duren di daerah Rancamaya. Setiap musim duren aku sempatkan sekali-kali ke sana untuk makan duren. Banyak rencana yang akan dilakukan mereka dengan lahan kebun duren tersebut. Terutama rencana untuk menghadapi masa pensiun.

Suatu malam sekitar jam 1-2 malam, aku terjaga karena mendengar agak gaduh di depan. Seperti suara orang yang minta dibukakan pagar dan ingin masuk rumah. Sigap aku bangun dan menuju ke depan dengan bersiaga. Maklum dirumah itu pemuda hanya aku. Anak-anak mereka masih kecil dan perempuan.

Di ruang tamu kudengar suara yang agak keras dari tamu yang memaksakan keinginan kepada tuan rumah. Saat mau kedepan aku dihalang oleh ibu tuan rumah, dan agar mendengarkan saja.

Kejadian tidak berlangsung lama dan para tamu sudah pulang berkendara mobil. Lalu bapak tuan rumah mengumpulkan kami, menenangkan dan menceritakan apa yang terjadi.
Ternyata yang datang adalah ajudan Pangkopkamtib Sudomo dengan membawa senjata. Mereka meminta tuan rumah untuk menjual lahan kebun duren di rancamaya. Lahan mereka tergolong luas dan termasuk yang tidak setuju untuk menjual kepada developer.

Meskipun berusaha tegar, aku melihat kesedihan mereka. Rencana persiapan pensiun berantakan disaat masa pensiun sebentar lagi tiba.

Tak berapa lama, kudengar di bekas lahan itu akan dibangun lapangan golf yang melengkapi perumahan. Sejak itulah aku menjadi alergi terhadap lapangan golf. Hingga kini.

Mungkin sikapku kurang benar, tetapi aku berusaha konsisten untuk berempati kepada mereka yang tergusur.

4:29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

.

Tidak ada komentar: